NOSTALGIA ALHAMBRA   2 comments

Tanggal 2 Januari 1492, adalah hari-hari paling mendung bagi kaum Muslimin Andalusia (Spanyol). Pada tanggal tersebut, Amir Muhammad Abu Abdillah harus menyerahkan kota Granada yang cantik permai itu kepada kerajaan-kerajaan Arragon dan Castilla, dua kerajaan Kristen di utara setelah bertempur selama 50 hari secara “mati-matian”. Dengan jatuhnya kota Granada ini maka lenaplah kekuasaan Islam yang sudah lebih dari 700 tahun terpancang di Andalusia.
Kaisar Ferdinand yang baru dimabuk kemenangan itu lalu melangkah memasuki gerbang istana Al-Hambra dengan diiringi para perwiranya. Kepada Amir Muhammad, raja yang malang itu segera diberinya ultimatum, agar baginda beserta seluruh pembesar-pembesarnya segera meninggalkan Granada dalam jangka 7 hari. Lewat dari hari yang ditentukan itu, Ferdinand tidak lagi menjamin keselamatan pribadi Amir Muhammad beserta pembesar-pembesar dan para sanak keluarga.
Raja yang malang itu terpaksa menuruti segala kehendak orang yang mengalahkannya dengan derai air mata. Tujuh hari kemudian berangkatlah baginda meninggalkan kota Granada, negeri pusaka nenek moyangnya menuju Afrika Utara beserta 4 juta kaum Muslimin yang kini hanya mengharap belas kasihan musuh. Alangkah sedihnya hati baginda ketika akan berpisah dengan pusaka leluhurnya itu. Baginda menangis terisak-isak di saat melangkah keluar pintu gerbang istana di mana dia dilahirkan dan dibesarkan. Dipandangnya dalam-dalam istana Al-Hambra yang indah permai itu untuk terakhir kalinya. Dan ditatapnya taman bunga yang cantik semerbak beserta setiap rumpun-rumpunnya yang lemah gemulai. “Selamat tinggal wahai tanah Andalusia yang cantik, kau kini menjadi milik orang lain,” ujarnya. “Selamat tinggal pula Wahai Al-Hambra yang molek, kau akan didiami oleh orang lain pula, aku terpaksa meninggalkanmu kendati dengan perasaan yang hancur dan penuh haru.”
Setelah itu baginda membalikkan badannya menaiki kereta kuda yang telah tersedia, lalu berangkat menuju Gibralta (Jabal Ath-Thariq) dengan pengiring-ngiringnya. Dari sana baginda naik kapal yang membawa ke pantai utara benua Afrika. Setelah Amir Muhammad tiba di kota Fez, baginda di sambut oleh rekannya, Sultan Muhammmad Syaikhul Wathasy, Amir (penguasa) wilayah kota Maroko. Kemudian amir Muhammad Abu Abdillah memilih bertempat tinggal di suatu puri di kota tersebut yang tidak berapa jauh dari pantai laut tengah. Di tempat itu ketika matahari akan turun ke ufuk sebelah barat, raja yang malang itu tidak puas-puasnya menatap ke tengah-tengah lautan lepas. Dikhyalkan dalam pikirannya bahwa di balik lautan biru yang bergelombang itu terdapat negeri Andalus yang indah permai dengan Istana Al-Hambra yang begitu cantik. Kini semua itu telah menjadi milik musuh yang mengalahkannya. Mereka kini berjalan di taman-taman, mandi di kolam-kolam dan bercengkerama dalam kamar-kamarnya. Bila ingatannya telah kembali ke arah itu. Mulutnya tiba-tiba mengeluh dan beberapa tetes air mata mengalir di pipinya.
Namun ketika Amir Muhammad mengungsi ke Afrika, di antara para pengiringnya terdapatlah seorang cucu, pangeran Sa’id namanya. Dia baru berusia tiga bulan. Ayah bayi tersebut adalah laksamana Abdullah yang telah tertawan dan dibunuh dalam pertempuran melawan Armada Spanyol dekat teluk Cartelona. Sedang ibunya, Aminah telah meninggal ketika melahirkannya. Karena kesedihan yang tak tertahankan atas kehilangan suami tercinta. Anak yatim piatu itu tumbuh menjadi besar di bawah belaian kasih sayang neneknya. Bila malam tiba, Amir Muhammad membuainya dengan syair-syair lagu Andalus, lagu-lagu yang mengisahkan tentang keindahan Granada. Kemolekan Al-Hambra dengan gunungnya yang menghijau dengan sungai-sungai yang jernih dan dengan berbagai bunga mekar indah semerbak pada musim semi. Semua syair-syair itu seolah terpatri di lubuk hati yang paling dalam anak yang mulai dewasa itu. Suatu ketika Amir Muhammad bercerita kepada cucunya bahwa tanah kelahiran dan negeri tumpah darahnya bukanlah Afrika, tetapi nun jauh di sana, di seberang selat Gibraltar negeri Andalusia, di sana terdapat istana Al-Hambra yang bersepuh emas, dan di sana pula dia dilahirkan.
“Alangkah permainya bumi Andalusia cucuku,” demikian Amir Muhammad bercerita kepada pangeran Sa’id. “Bagaikan sepotong firdaus yang diciptakan Allah di persada ini. Udaranya seolah-olah semerbak kasturi, rumput-rumputnya bagaikan emas juwita, batu kerikilnya laksana permata zamrut, kendatipun di musim kemarau Andalusia tetap menjadi idaman penduduknya, begitu ta’jub bagi para pelancong menyaksikannya. Bintang-bintang bersinar cemerlang hawanya seolah-olah pagi selalu, dan bila malam tiba, mimpi pun begitu indah. Di sanalah pusara ibumu wahai Sa’id, dan juga seluruh nenek moyangmu. Namun demikian kau Sa’id , janganlah berusaha datang ke sana. Negeri leluhurmu itu kini telah berada ditangan musuh, mereka telah merampoknya dengan segala kekerasaan dan keangkara-murkaan. Seluruh kaum muslimin telah diusir dari sana, dan yang masih mau menetap dipaksa menukar agamanya. Pada setiap penjuru kota dan desa mereka dibangun pengadilan taftisy (pengadilan berdarah) untuk mengadili setiap muslimin yang tidak mau murtad terhadap agamanya. Andalusia bagi kita, wahai cucuku bagaikan sebuah permata yang hilang.”
Cerita neneknya ini terhujam begitu dalam di relung hati Pangeran Sa’id. Tekadnya semakin bulat untuk datang ke Andalusia guna melihat negeri nenek moyangnya kendati apa saja yang akan menimpa atas dirinya. Hari berganti hari, minggu berlipat ke dalam bulan dan bulan pun ter benam ke dalam tahun, sembilan belas tahun telah berlalu, amir Muhammad bin Abdillah pun berpulang ke rahmatullah karena penyakit tuanya. Kini tinggalah Pangeran Sa’id dan sisa pengiring neneknya yang masih hidup di kota Fez. Dalam usia remajanya dia telah menjadi seorang pemuda yang tampan, gagah serta penuh semangat, namun pada wajahnya yang bulat telur itu tampak sekali terlukis rona-rona kesedihan, karena menyadari bahwa dirinya adalah anak yang terbuang, jauh dari negeri leluhurnya. Masih mengiang di telinganya berbagai cerita almarhum kakeknya bahwa tanah tumpah darahnya bukanlah Afrika tetapi nun jauh di daratan Andalusia. Menurut kata-kata almarhum kakeknya, negeri tersebut bagaikan taman firdaus di hamparan persada ini, berumput emas dan berudara kasturi. Maka timbullah hasrat untuk melihat negeri nenek moyangnya itu kendati almarhum neneknya mewanti-wanti melarang pergi ke sana. Ia ternyata rela menanggung segala akibat yang akan menimpa dirinya asalkan dia telah dapat menyaksikan sendiri keindahan istana Al-Hambra yang dikelilingi taman-taman dan kecantikan kota Granada (Gharnathah).
Pada permulaan musim semi tahun 1511 M. Pangeran Sa’id bertolak dengan diam-diam dari pelabuhan kota Fez menuju Andalusia menumpang kapal dangang orang Yunani. Setelah beberapa hari dalam pelayaran mendaratlah ia dipantai Gibraltar di mana Thariq bin Ziad beserta pasukannya pernah mendarat tepat pada masa 800 tahun yang lalu ketika menaklukkan Andalusia. Dari sana dia menyebrang ke Malaga lalu meneruskan perjalanan dengan menunggang kereta kuda ke kota Granada. Di sepanjang jalan-jalan yang dilaluinya tampaklah dusun-dusun yang tidak ubahnya perdusunan Arab yang terdapat di Afrika Utara, Syiria ataupun Persia. Orang laki-laki masih mengenakan pakaian Arab berjubah dan bersorban, sedangkan kaum wanitanya berkerudung dan berjilbab, bahasa mereka masih bahasa Arab, namun pada dada mereka bergantung kalung salib yang berjuntai. Demikian pula tatkala Pangeran Sa’id melihat pada setiap desa masjid-masjid yang mungil dan indah nemun semuanya telah menjadi gereja. Pada puncak-puncak menara dan kubahnya bukan lagi terpancang bulan sabit yang melingkari bintang tetapi telah bertukar kayu salib yang besar-besar. Ketika melihat semua ini, dengan tidak disadari air matanya berderai membasahi pipi dengan hati yang diliputi duka yang begitu mendalam. Padahal sebagai laki-laki, selama ini dia tidak pernah menitikan air mata, baru kali ini hatinya bergolak begitu kencang seakan tidak terkendalikan lagi.
Tepat pada hari Minggu, pagi-pagi sekali tibalah Pangeran Sa’id di kota Granada, kota yang diidam-idamkan selama ini. Alangkah takjubnya dia ketika melihat kota tersebut, bagaikan mengalami mimpi panjang layaknya. Gedung-gedungnya begitu cantik dan permai dengan lorong dan jalan yang cukup luas, istana-istana yang anggun dihiasi dengan taman-taman yang semerbak, kanal-kanal yang simpang siur ke sana kmari, menara-menara masjid yang menjulang ke awan, sungguh pemandangan yang begitu sedap. Maka tidaklah berlebihan bila almarhum kekeknya mengatakan bahwa Granada bagaikan firdaus di persada ini. Dari sana dia mulai berlkelana di sepanjang jalan raya kota Granada itu laksana seorang musafir yang tersesat di suatu negeri yang jauh, padahal negeri itu merupakan daerah nenek moyangnya. Dan bila dia tiba di suatu masjid yang telah berubah fungsinya menjadi gereja, berhentilah dia sejenak untuk meneteskan air mata, setelah itu dia segera berlalu pula. Akhirnya ia tibalah di depan sebuah masjid Jami’ yang begitu anggun namun telah berubah fungsi menjadi sebuah katedral besar. Ia sendiri terpaku mendengarkan nyanyian kudus dari dalamnya. Ia termenung begitu panjang bahwa dua puluh tahun yang lampau dalam masjid tersebut masih berkumandang suara adzan dan masih bergema ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Tiba-tiba saja anak muda itu kepalanya terasa bagaikan menjunjung beban yang amat berat, akhirnya tubuhnya terkulai di atas rumput dengan pandangan yang berkunang-kunang tidak sadarkan diri. Entah berapa lama dia tergeletak di halaman masjid itu, dia sendiri tidak mengetahui. Dan baru menyadari ketika sebuah tangan yang begitu halus mmbelai-belai pundaknya. Pada saat itu dia menoleh pada orang yang menyentuhnya, maka tampaklah seorang gadis cantik berpakaian biarawati berwarna putih bersih berjongkok di sebelah kirinya. “Min aina anta ya sayyidi? (dari mana tuan datang?),” tanya gadis tersebut dalam bahasa Arab yang kaku. “Ana min kurthubah ya saiyidah! (saya baru datang dari kordoba),” jawab pangeran Sa’id agak malu-malu. “kalau begitu Tuan seorang diri di kota ini!” sahut gadis itu lagi. Pangeran Sa’id mengangguk. “Baiklah kalau begitu ke rumah saya. Tuan menjadi tamu saya!” sambung gadis itu lagi. Bagaikan ditarik suatu kekuatan ghaib, Pangeran Sa’id mengikuti saja kehendak gadis itu menuju kesuatu rumah besar, tidak seberapa jauh di sebelah utara masjid. “marilah masuk Tuan!” gadis itu mempersilahkan seraya membuka pintu rumahnya lebar-lebar. Pangeran Sa’id pun memeasuki rumah itu dengan hati berdebar-debar. Dilihatnya daun pintunya masih terlukis sepasang kalimat tauhid dengan tulisan arab yang indah. Demikian pula dinding-dinding di dalamnya masih terpahat ayat-ayat suci Al-Qur’an dengan ukiran seni yang bernilai tinggi.
“Saya hanya sendirian tinggal di rumah besar ini tuan. Kedua ayah bunda saya telah tiada,” ujar gadis itu seraya meletakkan kitab Injilnya di atas meja kecil di sudut ruangan. Pangeran Sa’id dipersilahkan duduk di ruang tamu, sementara gadis itu sendiri mempersiapkan makan siang. Ketika mereka makan itulah Pangeran Sa’id memberanikan diri untuk bertanya pada gadis tersebut dengan agak malu-malu. “Siapakah nama anda sebenarnya Zuster?”, “Florenza, Zuster Florenza,” jawab gadis itu dengan tersenyum begitu manis. “Terima kasih atas bantuan Anda terhadap saya di kota ini Zuster!” sambung Pangeran Sa’id. Kembali gadis itu mengembangkan senyumnya dengan begitu ramah. “Dan siapa pula nama anda sebenarnya Tuan?” Florenza balik bertanya. Pangeran Sa’id tertegun sejenak, kemudia dia cepat-cepat menjawab dengan berdusta, “Gonzales, ya Imanuel Gonzales, begitulah Zuster!” “Nama yang begitu baik dan bahasa Arab Anda pun cukup lancar. Namun apakah Tuan juga lancar berbahasa Spanyol?” Tampak oleh Florenza wajah tamunya berubah memucat ketika dia mengajukan pertanyaan itu, namun Florenza dengan secepatnya menghentikan percakapan itu, lalu menyibukkan diri dengan makanan yang tersaji di hadapannya. Selesai makan Pangeran Sa’id dipersilahkan istirahat dalam kamar yang telah disediakan untuknya berseberangan letaknya dengan kamar gadis itu sendiri.
Dalam kamar itu pulalah pemuda pengembara itu mengerjakan Shalat Ashar dan Maghrib secara sembunyi. Dan pda pukul sebelas malam, dia memberanikan diri untuk keluar kamar dengan hati-hati sekali melalui daun pintu yang kebetulan terbuka. Ia melihat Florenza yang sedang tidur dengan pulasnya. Di bawah sinar lampu yang temaram, ia melihat gadis biara itu benar-benar seorang gadis yang jelita dalam pakaian tidur yang berwarna jingga. Tubuhnya padat berisi dengan perawakannya yang tinggi semampai. Kulitnya putih bersih bagaikan hamparan bunga anggur di musim semi, rambutnya hitam pekat dengan bentuk hidung yang cukup mancung persis layaknya kebanyakan hidung gadis-gadis Arab. “Mungkinkah gadis biara ini keturunan Arab?” pikir Pangeran Sa’id dalam hati. Kemudian dengan sangat berhati-hati Pangeran Sa’id melangkah keluar rumah setelah membuka pintunya dengan pelan-pelan sekali. Di luar ia melihat kota Granada sedang bermandikan sinar purnama raya, menara-menara masjid yang telah berubah menjadi gereja, dan puncak-puncak istana yang tampak anggun di sana-sini. Ia kemudian mengenang pada dua puluh tahun yang lampau bahwa almarhum kakeknya tentu pernah menikmati keindahan kota ini pada malam bulan purnama seperti saat ini. Tak terasa air matanya menetes mambasahi pipinya. Setelah diseka dengan ujung sorbannya dia lantas menuju ke jalan raya yang tampak sepi karena penduduk kota sedang dibuai mimpi.
Ia menyusuri jalan raya itu ke arah utara kemudian berbelok ke barat mencari kuburan tua yang dilihatnya pada siang tadi. Setelah dia mendapatkan pemakaman tua itu kembali, tampak sekali tembok-tembok yang memagarinya telah banyak yang runtuh, batu-batu nisannya berserakan kesana kemari dan beberapa ekor keledai terlepas dari pemiliknya kelihatan tidur dengan enaknya. Ia lalu memeriksa setiap kubur dengan hati-hati sekali. Di bawah cahaya sinar rembulan yang terang, ia mencoba membaca tulisan-tulisan yang tertera pada batu-batu nisan dengan cermat. Tidak berapa lama sampailah dia pada suatu sudut. Dan didapatinya sebuah batu nisan yang telah miring, di mana di atasnya tertera huruf Arab yang berbunyi Aminah binti Hisyam Al Ghalib. Dengan serta merta Pangeran muda itu menelungkupkan tubuhnya di atas pusara tua tersebut, dengan disertai tangis yang terisak-isak karena ia yakin benar bahwa pusara itu adalah pusara ibu kandungnya. “I….bu!” ratapnya terputus-putus, “ini adalah anakmu, berada di atas pusaramu. Anakmu yang belum pernah melihat wajahmu, tetapi menurut pesan kakek kau terkubur di tempat ini. Alangkah hancurnya tangkai hatiku, oh Ibu. Jasadmu kini terbaring asing do negeri ini, padahal negeri ini adalah negeri leluhurmu, dan tentu negeri leluhurku pula. Tidak ada yang merawat pusaramu lagi, demikian pula pusara-pusara keluarga kita semua. Di atas pusaramu kini tumbuh dengan suburnya rumput-rumput dan semak-semak berduri. Mungkin sewaktu-waktu nanti mereka akan membongkarnya untuk mendirikan gedung-gedung baru ataupun untuk perluasan-perluasan kota. Alangkah jeleknya nasibmu ibu, nasibku demikian pula nasib seluruh kaum muslimin yang tinggal disini.”
Di tumpahkannya seluruh gejolak hatinya pada kubur tua yang bisu itu, dan segala kerinduannya. Dibasuhnya nisan yang telah miring itu dengan air matanya, dipeluknya dengan mesra, bagaikan anak kecil yang memeluk tubuh ibu kandungnya yang telah lama tidak bersua. Tiba-tiba di engah ratap tangis dan sedu sedan itu, terdengarlah seseorang yang memanggilnya dari arah belakang. “tuan, hentikan ratapmu karena semua itu memang telah terjadi.” Ketika ia menoleh ke belakang, dilihatnya Florenza berdiri tidak berapa jauh dirinya, bagaikan sesosok tubuh bidadari yang baru turun dari kahyangan. ”ini adalah pusara ibu kandungku Florenza,”Jawab pemuda itu dengan kata yang terputus-putus. “Tuan, “Ujar gadis itu kembali.”Hidup itu agaikan roda pedati, yang kadang kala di atas dan kadang kala di bawah. Lihatlah kerajaan-kerajaan yang telah muncul kemudian tenggelam pula oleh lautan sejarah. Kemegehan Alexander (Al-Iskandar) dari Macedonia, kemasyhuran Babilonia, kegagahan Darius dan Persia kini tinggal legenda belaka. Demekian pula tentang zaman keemasan kaum Muslimin di negeri ini. Kenapa sampai Tuan bersusah?” cecar Florenza. Akhirnya Florenza melangkah lebih dekat dengan pemuda itu, lalu disekanya butir-butir air mata yang membasahinya dengan penuh kasih sayang. Dituntunya pangeran malang itu ke rumah bagakan seekor onta yang dicucuk hidungnya.
“Florenza,” kaat pemuda itu setelah berada di rumah kembali. “kini kau telah mengetahui seluruhnya mengenai tekadku datang kemari.” “Oh, wahai pemuda yang malang,” desah Florenza kembali, “Nasibku tidak jauh lebih baik dari pada nasibmu!”
“Apakah kau juga mengalami nasib yang sama denganku, florenza?” tiba-tiba saja pertanyaan itu meluncur begitu saja dari sang Pangeran. Gadis tersebut mengangguk. “Kakekku dulu adalah seorang Kadhi di negeri ini, ketika kaum Muslimin masih jaya di kota Granada, namun setelah mereka dapat dikalahkan dengan segera kakekku dibinasakan karena beliau tidak mau menukar agamanya. Lima tahun pula kemudian menyusul ayah dan ibuku. Keduanya kemudian dihadapkan ke depan mahkamah taftisy (pengadilan berdarah) karena disinyalir keduanya masih menyembunyikan keislamannya. Sekarang tinggallah diriku sebatang kara semenjak kedua orang tuaku meninggalkanku umur tujuh tahun. Untung saja ketika itu aku diambil oleh Bapak pendeta, Garzia Fernandez namanya. Lalu aku dididik di biara untuk menjadi biarawati.”
“Oh, kita senasib Florenza!” jawab Pangeran Sa’id seraya menyeka butir-butir air mata yang membasahi pipinya.
Gadis itu mengangguk. “Aku sudah sebatang kara di dunia ini pangeran, tidak ada sanak famili dan handai taulan, satu-satunya teman bagiku hanyalah Tuhan semata.”
“Aku demikian pula Florenza!” setelah itu kembali mereka membisu, hanya desah-desah nafas sajalah yang memecah keheningan malam ketika itu. “Florenza!” tiba-tiba suara sang Pangeran memecah keheningan. Gadis itu mengangkat kepalanya lalu di pandanginya pemuda itu dengan tatapan mata yang begitu dalam dan penuh arti. “ketika mula-mula aku datang di granada ini seolah-olah aku berada di negeri yang sangat jauh dan terlunta-lunta sebatang kara. Namun setelah aku berjumpa denganmu Florenza, negeri ini bagaikan telah menjadi milikku kembali. Kau adalah satu-satunya wanita yang dapat mengisi kehampaan hatiku selama ini. Bertahun-tahun yang lalu hatiku begitu gersang dan kosong Florenza, bagaikan padang pasir tandus atau pelita yang kehabisan minyak yang enggan menyala di malam gelap gulita, namun minyak itu telah kau isikan lagi denagn uluran tanganmu Florenza.”
“Maksud Pangeran?”
“Secara tidak kusadari aku telah jatuh cinta kepadamu Florenza!” Gadis biara itu tidak menjawab, hanya butir-butir air matanya begitu deras mengalir tanpa kuasa menahannya lagi membasahi wajahnya yang jelita. “Kenapa engkau menangis Florenza, adakah kalimatku jadi melukai perasaanmu, Florenza?” tanya sang Pangeran dengan suara Gemetar.
“Terimalah tanganku yang kuulurkan padamu danberilah secercah harapan kepadaku, sehingga bagaikan kau memberi segelas air kepada seorang musafir di tengah padang pasir,” sambung pangeran lagi. Lagi-lagi ucapan ini tidak terjawab, namun deraian air mata makin banyak mengalir di pipi Florenza.
“kenapa kau masih saja membisu, berilah jawaban kepadaku. Apa saja yang kau katakan akan kuterima dengan tangan terbuka, “sergah sang pangertan lagi.
“Pangeran! “panggilnya
“Ya, Florenza!”
“Tahukah kau, apa yang tergantung didadaku ini?”
“Kalung salib, Florenza, sebuah lambang kebesaran agamamu.”
“itulah sebabnya, pangeran. Sebenarnya semenjak aku menjumpaimu, aku ingin menumpahkan seluruh kasih sayangku kepadamu. Namun aku telah terlanjur menjadi biarawati, seluruh cintaku harus kupersembahkan kepada Tuhan. Maka aku tak mampu lagi membagi cinta itu kepadamu pangeran, kendati hati kecilku menjerit untuk mempersembahkannnya kepadamu.”
Mendengar kalimat yang meluncur begitu lancar itu, Pangeran Sa’id menggeleng-gelengkan kepala lalu bangkit dari duduknya dan melangkah ke pintu dan ke luar menuju jalan raya. Namun Florenza secepatnya mengikuti dari belakang. Akhirnya gadis biara itu hanya mampu memandang sosok tubuh yang malang. Menghilang pelan-pelan ditelan kegelapan malam. Sedangkan mulutnya terasa terkunci tidak mampu memanggilnya kembali. Sejenak kemudian gadis itu kembali memasuki rumahnya seraya menghempaskan tubuhnya di atas kursi yang belum berselang lama diduduki oleh pangeran Sa’id. Dari kejauhan sayup-sayup terdengar kokok ayam jantan menunjukkan hari hampir pagi. Keesokan harinya setelah menyiapkan sarapan pagi, Floranza memutuskan untuk tidak mengunjungi gereja siang itu. Ia bertekad untuk mencari Pangeran Sa’id di sepanjang kota Granada kemudian membawanya ke rumah kembali. Dalam pertemuan nanti dia akan membisikkan ke telinga pemuda itu bahwa dia akan menyintainya pula dengan sepenuh hati, di mana dia ternyata tidak bisa hidup di dunia fana dengan tanpa ada Pangeran Sa’id di sisinya.
Memang benar demikianlah kenyataannya, sebab setelah Pangeran Sa’id keluar dari rumahnya semlam, Florenza seolah-olah merasakan ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Ia merasakan telah kehilangan mustika yang beru saja diperolehnya. Namun hampir setenah haru ia mencarinya, pemuda itu belum dijumpainya pula. Hati Florenza bertambah resah, seolah ada sesuatu yang menimpa pada diri pemuda yang dicintainya itu. Dan memang prasangkanya itu terbukti kebenarannya. Beberapa saat kemudian dari arah depan tiba-tiba dilihatnya serombongan tentara berkuda berpacu ke arahnya sambil meniup terompet dan berteriak-teriak. Mereka mengatakan bahwa sebentar lagi akan dilakukan hukuman pancung di halaman istana Al-hambra terhadap seorang Muslim yang ditemukan di dalam kota. Semua orang diperintahkan berkumpul di sana menyaksikan hukuman tersebut. Florenza segera berlari ke istana. Di sana dilihatnya telah banyak orang-orang berkumpul dan seorang pemuda yang tidak lain adalah Pangeran Sa’id. Ia berdiri di atas balkon dengan kedua belah tangan yang diikat ke belakang. Seorang laki-laki gendut yang dikenal dengan nama Graff Sancho berdiri dengan angkuhnya dikelilingi oleh pembesar-pembesar istana memandang pemuda tersebut dengan wajah beringas.
“kau adalah keturunan Bani Ahmar terakhir Nak! Dan kau harus mati di depan mataku terkecuali bila kau sudi meninggalkan agamamu dan berpindah ke dalam agama kami,” ujar Sancho dengan suara yang lantang. “Tidak, tidak Graff,” Jawab Pangeran Sa’id dengan tegas “Aku tidak akan menukar agamaku walaupun apa saja hukuman yang akan kau timpakan terhadap diriku.”
“Ah, jangan keras kepala Nak!” bantah Graff Sancho dengan suara ramah. “kau masih muda Nak, dan masa depanmu boleh jadi begitu cemerlang bila kau mengkitu kehendakku. Mungkin saja kau akan kujadikan anak angkatku atau kukawinkan dengan puteri kandungku Angelona.”
“Tidak, aku tidak akan menukar agamaku dengan kecantikan anak gadismu Graff. Nilai iman di dadaku lebih tinggi dari segala-galanya.”
“kalau demikian aku terpaksa membunuhnu, sebagaimana beribu-ribu kaum Muslimi yang masih keras kepala,”bentak Graff Sancho mulai marah.
“Silahkan Graff, aku sama sekali tidak takut terhadap ancamammu itu dan tidak pula takut mati yang kini sedang mengintip diriku. Tetapi sebelum aku kau bunuh, apakah kiranya tindakan ini atas anjuran agama yang kau peluk itu?”
Graff Sancho mengangguk. “kau bohong Graff. Agamaku sebagaimana agamamu selalu menebar kasih sayang antar sesama, menghormati yang tua dan mengasihi yang lemah,” sahut sang Pangeran. Belum sempat Graff menyergah kalimat itu, segera saja Florenza mendekat seraya mengatakan, “Apa yang dikatakan pemuda ini memang benar Tuan, bahkan tidak ada satu ayat pun dalam kitab injil yang memerintahkan pemaksaan terhadap orang lain agar mereka memeluk agama kita. Tetapi di sana tersurat dengan jelas ”Jangan kamu menghunus pedang, sebab orang-orang yang bermain dengan pedang itu akan mati tersebab pedang itu sendiri” dan “Bila mereka menampar pipi kirimu maka berikanlah pipi kananmu” demikianlah argumentasi yang dikemukakan Florenza.
“Tetapi mengapa penguasa baru di negeri ini memerintahkan semua kaum Muslimin untuk menukar agamanya dengan jalan kekerasan?” kilah Graff Sancho.
“Oh, itu bukan atas perintah kitab suci Tuan, namun atas keserakahan penguasa itu sendiri. Agama kita sebenarnya selalu menganjurkan kedamaian dan cinta kasih!” sahut Florenza. Diplomasi ini membuat Graff Sancho terperojok, namun dengan segera dia melangkah mundur menemui para pembesar yang lain. Dalam kesempatan inilah Florenza beberapa saat kemudian mengangkat kepalanya dan bertanya kepada sang Pangeran.
“Maaf Tuan, Siapakah nama Tuan sebenarnya?”
“Sa,id, Pangeran Sa’id, “Jawab pemuda itu tegas.
“Anda Keturunan Bani Ahmar penguasa Muslim yang terakhir dari Granada ini?”
Pemuda itu mengangguk, seraya berkata, “Benar Florenza, kakek saya adalah Amir Muhammad Abu Abdillah yang telah diusir oleh Frans Ferdinand ke Afrika setelah merampas negeri ini dari tangannya. Ketika itu aku masih berumur tiga bulan. Di sana kami hidup layaknya orang buangan dengan hati yang pilu dan dirundung putus asa. Dan semenjak kecil aku telah mendengar cerita dari kakekku tentang keindahan bumi Andalusia yang dikatakan firdaus di hamparan persada,” Demikian pengakuan sang Pangeran tanoa ditutup-tutupi lagi. Namun sejenak Graff Sancho datang kembali dengan algojo bengis, ordono namanya. Segera saja Pangeran Sa’id mencecar, “Sebenarnya semua agama telah mengajarkan pemeluknya supaya berbaut baik dan saling mengasihi kepada semua ummat manusia. Ayat injil manakah yang telah menganjurkan pembunuhan terhadap orang-orang yang menolak untuk memeluk agamamu secara paksa? Wahai Graff, semua pembunuhan dan semua kekejaman yang telah kau lakukan adalah karena keserakahan dan ketamakan semata-mata. Kitab Injilmu yang suci itu tidak pernah menganjurkan perilaku yang bengis itu.”
“Kurang ajar, Ordono! Pancung leher pemuda yang bosan hidup ini,” bentak Graff kepada algojo.
Maka algojo Ordono pun ampil ke depan dengan sebilah pedang yang membuat semua buluk kuduk orang yang melihatnya berdiri ngeri. Pangeran Sa’id dipapah algojo-algojo lainnya ke muka altar. Melihat tragedi ini tiba-tiba Florenza menyeruak kerumunan orang banyak dengan tergesa-gesa agar dapat mencapai orang yang dicintainya. Namun terlambat, pedang Ordono telah lebih dahulu memisahkan kepala pemuda yang malang itu dengan badannya. Kepala itu menggelinding ke tanah dengan cipratan-cipratan darah dari nadinya. Florenza hanya dapat memungut kepala yang telah terpisah dari tubuhnya itu, kemudian dipeluk dengan ratapan yang tak habis-habisnya. Pakaian biarawati yang putih bersih berlumuran darah. Dan kepala orang yang dicintainya itu seolah-olah tidak akan lepas dari pelukannya.
Berbulan-bulan bahkan berahun-tahun kemudian, orang yang dapat melihat seorang gadis dalam pakaian yang lusuh bergelandang di sepanjang jalan raya Granada sambil menangis, tertawa dan tersenyum sendiri. Mulutnya kadang-kadang memanggil Pangeran Sa’id, dan kadang-kadang menjerit panjang bagaikan orang yang sedih dan berputus asa. Itulah dia Zuster Florenza yang cantik, namun kini telah hilang ingatan karena kehilangan orang yang dicintainya.

Diambil dari anekdot sufi nasruddin Joha

Posted Januari 12, 2011 by Ahmaris in Uncategorized

Tagged with

2 responses to “NOSTALGIA ALHAMBRA

Subscribe to comments with RSS.

  1. Assalamu’alaikum…
    Terimakasih atas tulisannya,,,
    Tulisan yang anda buat sangat bermanfaat dan sangat berbobot…

    Kunjungi blog saya http://abdurrahmanshaleh.wordpress.com/
    kasih komentar dan saran untuk blog saya..
    Terimakasih,,,

    Luqman Ar-Raahman Al-Shaleh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: